Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Peneliti Bikin Metode Setrum Otak Agar Perokok Berhenti Ngebul

 

Konsumsi rokok dan obat-obatan terlarang seringkali menimbulkan kecanduan bagi penggunanya. Hal ini tak mengherankan karena menurut sebuah studi baru, keduanya sama-sama diakibatkan oleh aktivitas yang normal pada frontal cortex, bagian otak yang bertugas mendorong pengendalian diri (self-control).

Untuk memastikannya, peneliti memindai otak 10 perokok berat dan sedang dengan menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Secara khusus peneliti mengukur aktivitas partisipan ketika menonton klip video orang merokok dan membandingkannya dengan ketika partisipan disodori video biasa.

Sebelum menonton video-video tersebut, sejumlah partisipan diberi tahu bahwa peneliti akan menyediakan rokok segera setelah percobaan selesai. Tapi sebagian partisipan lainnya diberi tahu jika mereka harus menunggu selama 4 jam terlebih dulu agar bisa mendapatkan rokok yang mereka inginkan.

Ketika menonton video merokok, otak partisipan menunjukkan peningkatan aktivitas, terutama di area medial orbitofrontal cortex, bagian otak yang bertugas memberikan nilai tertentu pada sebuah perilaku.

Jadi ketika rokoknya langsung tersedia setelah percobaan, partisipan dilaporkan mengalami kecanduan yang lebih besar. Hal ini diperjelas dengan peningkatan aktivitas di area dorsolateral prefrontal cortex pada partisipan yang mengalami kecanduan lebih besar.

Dari situ peneliti menduga bahwa area otak inilah (dorsolateral prefrontal cortex) yang mengatur nilai-nilai tersebut. Dengan kata lain, area ini dapat menaikkan atau menurunkan 'kadar nilai' rokok (atau reward lainnya) di area pertama (medial orbitofrontal cortex). Hasilnya pun menunjukkan bahwa kecanduan mengakibatkan gangguan pada proses pengendalian diri dan pengambilan keputusan.

Setelah itu, partisipan coba dipapari metode bernama transcranial magnetic stimulation atau TMS. Metode non-invasif ini dapat merangsang ataupun menghambat aktivitas saraf otak dengan memberikan arus listrik lemah pada area otak tertentu.

Ketika dorsolateral prefrontal cortex dimatikan/dinonaktifkan menggunakan TMS, tak ada perbedaan aktivitas otak antara partisipan yang menonton video merokok dengan partisipan yang menonton video netral; kedua kelompok sama-sama dilaporkan mengalami tingkat kecanduan yang rendah pada rokok.

Diduga proses pemblokiran area otak ini dapat memotong kaitan antara kecanduan dengan kesadaran akan ketersediaan rokok.

"Ini adalah hasil dari pekerjaan kami selama ini untuk menemukan target pada area otak yang tepat agar dapat mendorong seseorang berhenti merokok," ungkap peneliti Antoine Bechara, seorang pakar ilmu saraf dari University of Southern California seperti dilansir dari livescience, Selasa (29/1/2013).

Selain itu, menurutnya TMS merupakan pendekatan yang sangat bermanfaat. "Metode ini dapat memberikan harapan untuk membantu orang-orang agar berhenti merokok dengan cara yang non-invasif," pungkasnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

http://health.detik.com/read/2013/01/29/162839/2155398/763/peneliti-bikin-metode-setrum-otak-agar-perokok-berhenti-ngebul?l992205755

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar