KU SUAP DENGAN CIUMAN
By:
Wiwik kurniati
Tak ada manusia di
dunia ini yang tidak menginginkan kesempurnaan pada dirinya,termasuk diriku. Brukkkk………….xixixixixixixi…………………..suara
tangisanku saat aku terjatuh dari sepedaku.
Waktu itu aku baru belajar menaiki sepeda untuk pertama kalinya. Umurku sudah hampir sepuluh tahun, tapi tak kunjung juga aku bisa seperti teman – teman ku yang dengan mudahnya menaiki sepeda bahkan tanpa memegang setirnya sekalipun. Hemmmm…………” udah!! nggak usah berharap……naik ajah belum bisa……heheheh…”, bisikku dalam hati .
Waktu itu aku baru belajar menaiki sepeda untuk pertama kalinya. Umurku sudah hampir sepuluh tahun, tapi tak kunjung juga aku bisa seperti teman – teman ku yang dengan mudahnya menaiki sepeda bahkan tanpa memegang setirnya sekalipun. Hemmmm…………” udah!! nggak usah berharap……naik ajah belum bisa……heheheh…”, bisikku dalam hati .
“Ya Allah kapan ya
aku bisa naik sepeda seperti teman-teman“,doaku disetiap malam ketika salat. Aku sebenarnya bingung juga dengan diriku ini, apa sih yang menyebabkan aku
seperti ini. Aku merasa ini suatu kelainan dalam diriku. Bahkan berdasarkan
cerita ibuku, saat itu aku bisa menaiki sepeda ketika umurku 12 tahun. Dan
sebelum itu setiap aku pergi ke sekolah ibuku dengan setianya selalu
mengantarkanku dan menjemputku. Sungguh sangat merepotkan diriku waktu itu. Dan
diumurku yang ke-17 tahun ini kelainan itu juga menghampiriku lagi. Sekarang
ini aku sudah kelas 1 SMA, dengan jarak rumah kesekolah yang lebih dari 10 km
tidak mungkin aku tempuh dengan bersepeda selama 3 tahun kedepan. Satu minggu, dua minggu mungkin aku bisa, tapi kayaknya
nggak mungkin banget kalau aku harus bersepeda selama 3 tahun itu,“bisa kanyak
Ronaldo Wati nih kaki...“, gerutuku dalam hati.
Satu minggu yang lalu
adalah sweet seventeen ku, ya........ seperti orang tua pada umumnya sih,
diulang tahunku yang ke-17 ini mereka
memberikanku motor, tapi percuma aja, karena aku tidak bisa mengendarainya.
Lebih dari 1 bulan aku nganggurin sepeda berwarna pink yang masih kinclong itu.
Tapi tak kunjung datang keberanian ku untuk mencobanya walaupun sesekali saja.
Setiap kali aku memegangnya saja selalu teringat dalam benakku kejadian yang
menimpa teman-temanku, yang pertama adalah Frinanda, dia meninggal akibat
menabrak pohon didepannya waktu mengendarai motor, kemudian yang kedua adalah
Dian, badannya hancur tak terbentuk akibat terlindas truk yang berpapasan
dengan dia, waktu mengendarai motor juga. Kedua kejadian itu selalu menghantui
pikiranku, aku tidak mau jika suatu saat nanti gara-gara motor semua kejadian
itu menimpa pada diriku. Aku rela kalau selama 3 tahun harus naik kendaraan
umum berwarna merah itu pulang pergi, bahkan tak jarang gara-gara itu aku telat
masuk sekolah. Sampai suatu ketika kondisi memaksaku untuk belajar motor. Ya,,,
itu semua gara-gara jalur yang dilewati kendaraan umum itu terputus karena
longsor, jadi tidak ada pilihan lain selain naik kendaraan motor pribadi.
Waktu itu tanggalan
menunjukkan warna merah, ayahku mengetuk pintu
kamarku,“tok...tok...tok...karunia....karunia...bangun!“, berjalan dengan
sempoyongan dan setengah sadar, aku bergegas untuk membukakan pintu
kamarku,“ada apa ayah?“, jawabku sambil memegang pintu kamarku.“Ayo ikut ayah
pergi!“, ajak ayahku dengan sedikit memaksa saat itu. Dengan tidak mengurangi
rasa hormatku saat itu,aku pun juga langsung mengiyakannya. Aku menuju kamar
mandi dan mulai membersihkan diri, kukenakan baju warna pink kado dari ibuku,
dan celana pendek warna abu-abu kesayanganku. Rambutku yang panjang ini
kukuncir dan ku hiasi pita supaya terlihat rapi. Aku menuju teras depan,diamana
ayahku sudah menunggu disana. Kali ini ayahku mengajakku dengan menggunakan
motor baru ku itu. Tak banyak tanya,aku pun langsung menempelkan bokongku di jok
berwarna pink itu. Ayahku menancapkan kunci motor, kemudian men-double
starter dan memasukkan gigi motor. Aku sebenarnya bingung mau diajak kemana,
dengan sedikit sungkan aku pun bertanya pada ayah,” yah, sebenarnya aku mau
diajak kemana sih?”.” Udah,,,,,,,tenang saja nanti juga tau kok” jawab ayah padaku.
Aku membayangkan bahwa ayah akan membawaku ke mal atau ke restauran padang
kesukaanku, makan apa saja yang aku mau, bahkan shoping baju, tas, atau
sepatu……..wih……..bakalan menjadi minggu yang mengasyikkan.
Ciiiiiitttttt……ayah
mengerem sepeda motor dengan mendadak,”Ayah,, bikin aku kaget aja”, gerutuka
pada ayah.”Kita sudah sampai”, jawab ayahku. Aku bingung dengan ayahku waktu
itu, sebenarnya apa yang ingin dilakukannya di tanah lapang yang di tumbuhi rumput
yang cukup rapi dan terawat itu, tiba- tiba ayah memberiku kunci motor. Dan menyuruhku belajar sepeda motor. Beberapa kali aku menolak, dan setelah
ayah mengancam akan tidak memberiku uang jajan sekolah selama satu bulan,
akhirnya aku mau mencoba. Ayah menjelaskan bagian- bagian motor itu dan cara
mengendarainya. Maklum saja, aku tidak pernah memperhatikan seluk beluk tentang
motor. Dan sekarang tiba saatnya aku mencoba sendiri. Telapak tangan
dingin,keringat dikepala seukuran biji jagung dan badan gemetaran saat itu.
Tapi ayah mencoba untuk membuatku santai dan sedikit demi sedikit menghilangkan
rasa trauma yang pernah menghampiriku. Dan satu, dua, tiga aku mulai menyalakan
mesin dan memasukkan gigi-nya lalu memutar gasnya dan yeeee......motor berhasil
aku jalankan. Tak berhenti disitu, didepan aku harus belok, kalau tidak, aku
bakalan disambut dengan genangan air berwarna hitam yang baunya sangat
menyengat itu. Kucoba sedikit demi sedikit, mengurangi kecepatan dan menginjak
rem. Ku lihat wajah ayahku pucat dan khawatir, melihatku dari kejauhan. Ketika
aku berhenti di depan ayah, ayah langsung lega. Betapa girangnya aku saat itu,
akhirnya setelah beberapa tahun lamanya, rasa traumaku bisa ku kalahkan juga.
Siang itu ayah memutuskan
untuk mengakhiri belajar motornya. Dijalan ayah menceritakan kehawatirannya
kepadaku saat aku mengendarai motor tadi, ku tertawa terbahak bahak di jalan.
Semua tuduhanku pada ayah yang menyangka ayah tidak sayang karena memaksa –
maksa sesuatu yang tak ku suka kini terjawab. Aku sadar memang tak ada orangtua
yang tak menyayangi buah hatinya, mungkin caranya saja yang tidak semua anak
bisa mengartikannya, sepertiku ini.
Keesokan harinya ayah
memintaku untuk membawa sepeda motor kesekolah,tapi tetap saja berkali – kali
aku menolak,“ Kalau kamu tidak mau membawa motor sendiri, ya udah,,,,nggak usah
sekolah“, ayah mengancam ku lagi. Ayah dan ibuku waktu itu mau jenguk nenek
yang sedang sakit di Jember.“Yhahhh ayah,,,nanti kalau terjadi apa – apa dengan
Nia gimana?“, alasanku untuk menolak. Udah, kamu positif thinking ajah lah,,,jangan
negatif thinking seperti ibu kamu.“, jawab ayahku sambil membujuk.“ Ya udah deh
kalau begitu aku coba, ayah ibu,nia berangkat dulu ya, asslamualaikum.“, aku
berpamitan kepada mereka sambil mencium tangan. Mereka juga menjawab salam dan
tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam benak mereka tersimpan kekhawatiran yang
mendalam kepadaku. Aku mengeluarkan motorku dari garasi rumahku, dan aku
melakukan seperti yang pernah diinstrusikan ayah. Ban motorku sudah mulai
menggelinding, itu artinya aku sudah berhasil menjalankan langkah pertama.
Langkah yang kedua, aku harus selalu berkonsentrasi ketika mengemudi. Ditengah
jalan,nampaknya ada hal yang sedikit berbeda kali ini, kendaraan macet panjang,
aku kira itu hanya ada sebuah kecelakaan atau apa, tidak tahunya, didepan ada
sekelompok orang yang memakai seragam abu – abu coklat yang tak lain adalah
polisi yang sedang melakukan operasi kendaraan bermotor, awalnya aku merasa
biasa saja,tapi ketika mengecek dompetku, sungguh naas, STNK dan SIM ku
ketinggalan. Betapa gopohnya aku waktu itu, aku tak sempat memikirkan jalan
keluar yang lain, selain kabur. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin
dekat, aku langsung tancap gas. Upssss....... rupanya ada polisi yang
mengejarku. Tak berhasil kabur, malah tertangkap. Sial banget dah. Ketika
polisi itu membuka helem dan aku juga membuka helem....wihhhhh...sumpah....ini
bukan sembarangan polisi, mungkin ini satu – satunya polisi yang berhasil
membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Udah habis kayaknya stok polisi
yang kayak gini. Masih muda, tinggi, mancung, bola matanya coklat, it’s perfect
l think. Hemmmm....bikin hati deg – deg ser ajah. Bakalan kepikiran kawin mudah
nih,,,hehehehe. Ketika tersadar dari khayalanku itu, ternyata dari tadi polisi
itu memetikkan jarinya didepan mukaku.“ Anda baik – baik saya nona?“, tanya
polisi itu kepadaku.“ Iiiya, baik - baik
saja kok mas,,,,,oh maksud saya pak.“, jawabku dengan agak gagap, maklum saja,
jarang – jarang aku ketemu pangeran seperti nih orang.“ Maaf nona, bisa lihat
surat – suratnya?“, tanya polisi itu padaku.“ Surat apa pak, surat cinta?,maaf
kalau surat cinta saya nggak punya pak,hehehe.“, candaku sambil menggoda polisi
itu. Polisi pun tertawa mendengar banyolanku tadi,“ maksud saya itu STNK dan
SIM nona.“.“ hehehe salah ya pak,,,maaf..“ jawabku sambil mengolor waktu. Karena
tertawa mendengar candaanku, polisi itu tidak sengaja menjatuhkan topinya. Dan
betapa kagetnya aku,,iuhhhh....kepalanya botak,,,,nggak ada rambutnya sama
sekali ditambah ada tompel di kulit kepalanya itu,besar pula. Berrr... bikin
aku jadi ilfil aja ngeliat tuh polisi. Sayang justru sebaliknya, saat itu malah
tuh polisi senyum – senyum nggak jelas sama aku, kayaknya mulai terpanah asmara
gitu dan ketika aku jelasin kalau aku nggak bawa surat – surat, malah polisi itu diem
aja.“Kayaknya minta disuap nih polisi“,bisikku dalam hati. Aku keluarkan dompet
dari tas mungilku itu, dan benar benar sial untuk kedua kalinya, hanya tersisa
uang sepuluh ribu di dalam dompetku itu. Polisi itu malah tambah semakin senyam
– senyum sama aku.“ Pak gimana nih, aku nggak bawa surat – surat itu dan aku
juga nggak bawa uang, lepasin aku ya pak,aku mau kesekolah nih, soalnya ini
udah telat.“, pintaku pada polisi itu.“ Ya sebenarnya nggak apa – apa sih
nona,saya akan biarkan nona pergi, tapi....“, jawab polisi sambil mengedip –
kedipkan matanya.“Tapi apa pak?“seruku dengan nada tinggi. Polisi itu senyum sambil
memegang pipinya.“ Apa???maksud anda, anda minta saya cium sebagai gantinya?,
jawabanku dengan nada tinggi.“ Ya,,, itu pun kalau anda mau, kalau tidak ya
tinggal membawa masalah ini ke pengadilan, selesai kan?“, sahut polisi itu
dengan gampang.“ Jangan gila donk pak..saya ini wanita baik – baik loh pak,
belum pernah saya mencium orang sama sekali, masak ciuman pertama saya harus
saya berikan kepada bapak sih.“aku menolak tawaran polisi itu.“ Ya semuanya
terserah nona,saya kembalikan semua keputusan sama nona,gimana, mau tidak, saya
tidak mempunya banyak waktu loh nona“, bujuk polisi itu sambil memaksa.“ Ya uda
dech“, ku mulai memejamkan mata dan ku dekatkan bibirku yang mungil ini,walau
dalam hati sebenarnya tak rela. Setelah itu aku segera menjauh dan menghidupi motorku, sambil berkata,“
selesai ya pak!, nggak ada lagi urusan diantara kita lagi, anggap saja itu
semua tidak pernah terjadi diantara kita,karena saya tidak ikhlas pak“. Segera
ku tancap gas, setelah agak jauh. Polisi gila itu berteriak kepadaku,“ Aku
cinta sama anda nona“. Aku pun menjawab dengan teriakan“ dasar polisi gila, ku
sumpahin ingusan tujuh turunan.“
Nggak akan pernah aku
lupain kejadian ini, ketika dirumah aku langsung menuliskan ini di buku bersampul
biru dengan disertai fotoku. Ku ceritakan kejadian hari ini dari awal hingga
akhir. Tak terasa malam itu aku kecapekan sekali sehingga dibawah balutan kasur
empukku, ku memejamkan mataku, tanpa sempat mengunci buku diary itu. Saat aku
tertidut pulas, dasar si adikku yang sanggat jail ini mengambil dan
memberikannya pada ayah ibu malam itu juga. Ketik aku terbangun,aku mencari –
cari dikolong kamar, di laci dan disegala sudut di dalam kamarku,tapi tak
kunjung ku temukan.Keesokannya itu, ketika sarapan pagi di meja makan aku pun
bertanya pada ibu “Tahu buku diaryku warna biru nggak bu?“.“ Maksud kamu
ini?“,sambil menunjukkan buku mungil berwarna biru itu padaku.“ Iya bu, ibu
menemukannya dimana?“, aku bertanya dengan hati was was,aku berharap ibu tidak
pernah membukanya ataupun membacanya.“ Adikmu yang memberikanya pada ibu dan
ayah tadi malam ketika kamu sudah tertidur pulas“.“ Ibu sudah membacanya?“tanyaku
kepada ibu.Hemmm... malu banget
rasanya,tapi ketika aku bertanya kepada mereka seperti itu, mereka hanya senyum
– senyum kecil dan mungkin tertawa dalam hati. Dasar adik sialan, kalau bukan
adik kandungku, bisa – bisa tak jitak kamu nanti.
. . .












0 komentar:
Posting Komentar